Your Ad Here

Sunday, April 8, 2012

Kelas Menengah Mengejar Kereta


Sebagian kelas menengah mengikuti anjuran pemerintah: meninggalkan mobil di rumah dan pergi ke kantor naik kereta atau bus transjakarta. Setelah mereka ”berkorban”, lantas pemerintah melakukan apa?

Pukul 07.00, Selasa (3/4), Dewi Mulyati (52) tiba di Stasiun Rawabuntu, Tangerang Selatan, Banten, diantar anaknya dengan mobil pribadi. Pakaiannya rapi dan wangi seperti umumnya penampilan karyawan kantoran. Ia menjabat Kepala Departemen Consumer Market Insight Unilever. Sepagi itu ritme kehidupan merambat cepat. Peron stasiun yang lima menit lalu masih melompong tiba-tiba sesak oleh lebih dari 100 calon penumpang. Dewi ada di antara mereka, berdesakan untuk berdiri di garis depan.

Tidak sampai 10 menit menunggu, kereta commuter line (CL) jurusan Tanah Abang tiba di Rawabuntu. Pintu otomatis kereta terbuka, calon penumpang berebutan masuk ke dalam kereta yang telah sesak. Nyaris tidak ada ruang bergerak di dalam kereta. Punggung, kaki, dan bahu penumpang saling menekan. Hawa dingin yang keluar dari pendingin udara kalah dengan suhu penumpang kereta.

”Penderitaan” itu dijalani Dewi sekitar 15 menit saja. Ketika kereta berhenti di Stasiun Palmerah dan pintu otomatis terbuka, Dewi dan ratusan penumpang lain mengalir keluar gerbang bagai air bah. Bebas, lepas! Namun, akhir perjalanan Dewi belum selesai. Di depan Stasiun Palmerah, Dewi berebut sebuah taksi butut.

Taksi itu membawa Dewi ke kantornya di Jalan Gatot Soebroto. Tiba pukul 08.00, Dewi masih punya waktu 30 menit untuk minum teh di kantornya yang nyaman sebelum menjalani rapat pagi. ”Kalau saya pakai mobil pribadi paling cepat 2,5 jam dari rumah. Sampai kantor pukul 09.00,” katanya.

Sepatu hak tinggi ke sandal

Anita (24), karyawan sebuah bank di kawasan Sudirman, juga telah lama beralih ke kereta. Ditemui di Stasiun Sudirman, Senin sore, Anita telah siap tempur berebut kereta. Ia mengganti sepatu hak tingginya dengan sandal, memasang masker penutup hidung dan mulut, serta menyelipkan bangku lipat di tas kerjanya. Ketika kereta CL jurusan Bekasi yang ditunggunya tiba, ia berkata dengan semangat, ”Selamat berjuang!”

Anita tidak mengada-ada. Untuk masuk ke kereta perlu perjuangan keras. Penumpang saling dorong, saling serobot, dan saling sikut. Sore itu Anita gagal masuk ke dalam kereta dan harus berjuang lagi agar bisa terangkut kereta berikutnya.

Di luar stasiun hujan deras berjam-jam mengguyur Jakarta. Traffic Management Center mengabarkan, lalu lintas jalan raya terkunci di mana-mana lantaran banjir melanda beberapa sudut Jakarta. Namun, bagaimanapun buruknya cuaca Jakarta, selama pengelola kereta CL tidak menghentikan pengoperasian kereta, ribuan penumpang masih punya setitik harapan untuk pulang.

Berbeda dengan Arlene (22), karyawan di kawasan Kota yang sehari-hari menggunakan bus transjakarta jurusan Harmoni-Kalideres. Tiga puluh menit sudah ia berdesak-desakan di halte Harmoni hingga sebuah pengumuman disiarkan: bus transjakarta Koridor III (Harmoni-Kalideres) untuk sementara tidak beroperasi akibat banjir.

Kabar itu menyulut emosi sebagian calon penumpang. Mereka mencak-mencak sehingga petugas halte lari menyelamatkan diri. Arlene memilih tetap menunggu hingga menyerah ketika jam menunjukkan pukul 00.00. ”Saya pergi dari halte dan menginap di rumah teman,” ujar Arlene.

Roker: rombongan kereta

Mereka adalah potret kelas menengah Jabodetabek (berpenghasilan 2-20 dollar AS per hari) yang setiap hari menggunakan kereta atau bus transjakarta. Tampilan fisik mereka mudah dikenali: berbaju formal dan rapi. Yang perempuan sebagian mengenakan sepatu berhak tinggi, blus, rok selutut, dan tas kinclong. Meski berdesak-desakan mereka tetap mengoperasikan Blackberry atau iPad.

Obrolan mereka pun tidak jauh dari gaya hidup dan urusan pekerjaan. Di sebuah sudut kereta, seorang perempuan dengan rambut disasak berdebat lewat telepon seluler. Suaranya kian lama kian tinggi dan memuncak dengan teriakan marah, ”Kamu saya pecat!”

Teriakan itu membuat beberapa penumpang lain menolehkan muka. ”Busyet, mecat orang lewat HP,” bisik penumpang lain sambil tersenyum.

Belakangan, jumlah kelas menengah yang bermigrasi ke kereta terus bertambah. Tengoklah suasana di stasiun setiap pagi. Orang-orang berpakaian rapi diantar mobil pribadi atau ojek ke stasiun. Sebagian lagi membawa mobil atau sepeda motor sendiri dan memarkirnya di tempat parkir stasiun. Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan ke kantor dengan kereta. Itu sebabnya, lahan parkir di stasiun kereta kini sesak oleh sepeda motor dan mobil mulus.

Ya, kemacetan lalu lintas yang kian menggila mendorong kelas menengah pekerja menjadi ”roker” atau rombongan kereta—maksudnya penumpang kereta. ”Mau apalagi. Meski harus berdesak-desakan, saya tetap pilih kereta. Ini satu-satunya moda transportasi yang antimacet,” ujar Anita.

Makmur Syaheran, Sekretaris Perusahaan PT Kereta Api Commuter Jabodetabek (KCJ), mengatakan, penumpang kereta CL setiap hari berkisar 350.000 orang atau 2 persen dari seluruh pengguna transportasi darat di Jabodetabek. Setiap bulan, penumpang kereta CL bertambah 50.000-an. Kecenderungan ini akan terus menguat seiring dengan tumbuhnya permukiman baru di sepanjang jalur kereta.

Persoalannya, pengembang hanya mempromosikan bahwa perumahan yang mereka bangun dekat stasiun, tetapi tidak mau ikut membangun akses jalan atau fasilitas penunjang jalur kereta. ”Akhirnya permukiman baru itu hanya menjadi beban,” ujar Makmur.

KCJ selaku pengelola kereta CL berusaha merespons membeludaknya penumpang dengan menambah kereta. Mulai dari 2009 hingga 2011, kata Makmur, KCJ telah menambah 218 kereta CL menjadi total 494 kereta. Jadwal perjalanan dan jarak antar-perjalanan diutak-atik untuk mencari yang paling efisien.

Namun, itu semua, kata Makmur, tak cukup. Semua pemangku kepentingan, terutama pemerintah, harus ikut urun rembuk. ”Kami bisa saja terus menambah gerbong, tetapi sediakan listrik yang cukup, dong. Pemerintah daerah bikin jalan layang di perlintasan kereta, dong.”

Nasib 13 P

Begitulah, sebagian kelas menengah Jabodetabek mau berkorban meninggalkan mobil atau sepeda motor. Pertanyaannya, sampai kapan? ”Kelas menengah itu relatif mandiri, kalau kereta tidak nyaman, mereka akan kembali menggunakan kendaraan pribadi,” ujar Yayat Supriatna, pengamat transportasi dan perkotaan dari Universitas Trisakti.

Kalau itu terjadi, ujar Yayat, kemacetan akan terus menggila. Waktu dan ruang akan membeku di jalan raya. ”Aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial terdegradasi. Dan, nasib para komuter tetap 13 P,” kata Yayat.

Apa itu 13 P?

”Pergi pagi pulang petang pantat panas pinggang pegal pala pusing pendapatan pas-pasan....” Ah... pantesan.

0 comments:

Post a Comment